Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2022

Si paling kejutan!

  Si paling kejutan! hidup ini disajikan dengan porsi yang sangat adil. Terbukti, bahwa sakit yang paling disesali jatuh kepada sekte mengetahui apa yang seharusnya tidak diketahui. Yang seharusnya tidak kulihat, yang seharusnya tidak ku selami, dan yang seharusnya tidak kukenal. Tetapi semuanya terjadi begitu saja tanpa permisi. Entah mau menyalahkan siapa disini, karena memang kenyataannya kita sendiri yang salah, bukan begitu? Atau mungkin, mmg keinginan semesta dalam menutup dan membuka jalan yang lain? Rabb, kumohon… Yang paling tau seberapa besar kekuatanku, yang paling tau seberapa jauh usahaku, adalah engkau ya allah. Tutupi apapun yang seharusnya tidak kuketahui, Dan biarkanlah aku menapaki ekspetasi yang kubuat sendiri. Sekarang aku paham, bahwa dunia ini ada pada posisi terbaik seribu rahasia.   Darimana semua ini berawal? Ada satu tempat, dimana aku merasa bebas berekspresi dan memampukanku untuk menjadi diri sendiri. Aku sangat menikmat...

Life rules,,

  Life rules,, Setiap jantung yang berdetak hari ini, dipastikan pernah atau sering berada di posisi tidak mampu dalam membela, diri sendiri maupun orang lain. Juga bagi sebaya kita yang belum tau aturan mainnya, hanya akan menyudutkan pandangan, dan memastikan tidak ada satupun yang melihat kelemahan diri kita hari ini. Menangis. kemudian melirihkan setidaknya 1 atau 2 kalimat yang hanya terdengar sendiri, ttg “bagaimana caranya hidup dengan peraturan ini?” Terkadang, julukan yang pas memang untuk diriku yang berperasaan sensitive. Sebagian dari mereka mengira artinya sama, tetapi anggaplah lebih banyak dari mereka yang meyakini bahwa baper dan sensitif adalah suatu kemungkinan yang berbeda. Ribuan tahun setidaknya, membutuhkan waktu untuk menyetarakan standard kemanusiaaan. Bahwa mmg kenyataanya, yang kaya, yg pintar, yang good looking, adalah pemenang dari setiap kompetisi. Bukan insecure Namanya, kita hanya belum tau caranya menggunakan kesempatan. Matahari ma...

karena salah dalam membaca proposal!

karena salah dalam membaca proposal! Aku mendapati sebuah pertanyaan sore ini, “ dia kenal sama kaka? ” Bukan berasal dari seseorang yang hanya diselimuti rasa penasaran, tapi seseorang yang bahkan mengenalku lebih dari siapapun.. Semenjak saat itu, aku terus merasa ketakutan akan kesepian, Takut kalau kenyataannya memang aku selalu merasa sendirian. Aku bahkan terlupa, bahwa siapapun yang meramaikan semestaku saat ini adalah sesama yang membutuhkan teman. Boleh aku mengakuinya? Bahwa aku ingin kehadiran seseorang. Yang benar benar diciptakan dalam kisah perjalanan ku sebagai mereka yang menemukan tujuan, bukan lagi sebagai mereka yang beriringan bersamaku dengan maksud mempertanyakan ujung perjalanan. Izinkan ku mempermasalahkan hal yang tidak seharusnya, “dimana akhir semua ini?” Masih sangat Samar, dan aku belum pernah memiliki keberanian untuk memperjelasnya. Karena takut, ttg baggaimana jika ternyata expetasiku sama sekali tidak ada wujudnya di halaman ini. Se...

Sitting opposite!

  Sitting opposite! Tentang hak menduduki sebuah kepastian, juga tentang menghargai ramahnya kewajiban. Kebanyakannya dari mereka tidak penasaran, mengapa mengenali individual org terdekat justru terasa lebih sulit. Mengira hati yang terpaut, dan menganggap bahwa itu adalah hal yang paling biasa   dan akan terjadi tanpa usaha sekalipun. Siapa yg mau mengaku salah jika posisi nya demikian? Mayoritas hanya kurang paham, betapa dukungan justru bisa menjadi tekanan bagi Sebagian pihak. Dan maksud pendengar juga terkadang menjadi virus bagi sebuah kepercayaan. Ia bukan peduli, hanya ingin tahu. Lalu, siapa yanag berani bertanggung jawab? Ironisnya begini, jangan jatuh jika tidak dipercaya. Jangan jatuh jika terbiasa dianggap sebelah mata. Yang mengenal siapa dirimu, yang mengetahui seberapa jauh perjalananmu. Tidak ada satupun, bahkan benda mati didekatmu lebih mengenal itu.   Untuk siapapun disebrang sana, Kamu tidak salah, kamu hanya terlalu terluka unt...

thankfull power!

  ­­­ thankfull power! Caraku berterima kasih dengan sebuah cerita. Yang kebanyakannya adalah tentang bagaimana suatu kebahagiaan terkontrol dengan baik oleh diri kita, begitu juga dengan setiap rasa sakit yang mampu dimaafkan. Rasa seperti terlahir Kembali. Belum pernah mendengar siapa yang dicari, juga anggaplah belum pernah terdengar siapa yang terlupakan. mencari keberadaan, juga memikirkan caranya dimaafkan, meneliti setiap paragaraf yang terlahir Ketika berbicara dengan lawan. Seakan memastikan bahwa semua akan aman dibawah kendalinya. ah, aku tidak merasa terpenjara sama sekali. Aku senang dengan afirmasi “special” yang dikiaskan itu.    

Kesalahan dalam menempatkan paragraf!

  Kesalahan dalam menempatkan paragraf! Bukan lagi soal waktu, bukan lagi perihal tempat.   Kenyamanan memang menjadi syarat suatu alur mampu berjalan dengan ketepatan diatas rata rata. Mungkin mereka belum faham, antara lelucon yang cukup danta untuk dijadikan bahan tertawaan. Atau tertawa yang ternyata cukup untuk suara tertawa yang lain. Mereka salah tempat. Part-ner Setiap pertanyaan hampir kehilangan posisi karena ulahnya. Perlakuan dari setiap mereka. Respon tepat yang bahkan tak kasat oleh perasaan sekalipun. Kita yang salah dalam mengambil Langkah, atau mereka yang sekali lagi salah dalam memilih tempat. Untuk setiap partner, teman atau lawan. Kita salah tempat. Sesal. Yang entah untuk siapa kumaksudkan.  

Surat terbuka untuk siapapun yang ikut andil dalam egoisasi ini.

  Surat terbuka untuk siapapun yang ikut andil dalam egoisasi ini. Juga untukmu yang tertuju disetiap ketikkan ini diawali. Entahlah, aku harus pergi atau bertahan rabbi? Kemungkinan apa yang akan ku rasakan Ketika menyelami dunia baru, atau sepercaya itu dengan kalimat mustahil disetiap penghujung waktu. Mungkin aku akan Kembali, tetapi bukan untuk menyesali lembaran yang berhenti tidak pada waktunya, melainkan lembaran baru dengan cover yang lebih indah yang akan kumulai. Kisah ini bukanlah tentang sakit yang dibuat buat. Melainkan jawaban ‘iya’ dari setiap kekuatan yang diminta. Untukmu yang terganggu, untuk partner sukses yang terasingkan, dan untuk siapapun yang merasa tidak diadili dengan adanya grafik pencapaian itu dihadirkan. aku pergi, dan kita akhiri. Tetapi untuk setiap keterikatanku dengan kebesaran, untuk setiap inci ceritaku tumpah diatasnya, dan untuk segala rasa abdiku pada seluruh panduan. aku akan Kembali nanti. Sungguh untuk setiap senyum yan...

Percaya, duka atau Kembali suka?

  Percaya, duka atau Kembali suka? Tepat. Ketika kepala tertunduk pasrah pada keadaan. Ketika tanganku hanya mampu mengenggam sedikitnya harapan. Ketika merasa dunia ini hanya milikku seorang. Berat. Tidak mampu. Membuatku terus tersadar, bahwa kita memang tdk sanggup melakukan semuanya sendirian. Kita lemah. Bukan siapa siapa. Bukan apa apa Kembali, aku ingin Kembali di masa dimana aku tidak mengenal lelaki lain. Dan tidak menghadiri alur manapun yang mempertemukanku dengannya dulu.  Kecewa? Pasti. Tetapi aku menyesal karena pernah kecewa. seorang papa, manusia luar biasa yang belum pernah kutemukan sebelumnya. Satu satunya. Pertama dan terakhir mengisi kehidupanku. Ketika mata kepalaku menyingkap segala kebenaran. Dan mempertanyakan 'kenapa aku terlambat?' Seandainya aku tau papa bahkan menyembunyikan usahanya untuk segala rasa inginku terpenuhi. Juga kekarnya genggaman seorang ayah yang seringkali terlupa, betapa genggaman itu merindukan tangan mungil nan mulu...

Sejarah Reputasi Bangkit Diterbitkan!

  Sejarah Reputasi Bangkit Diterbitkan! Pernah menyesal dalam berharap? Pernah. Dulu aku pernah meminta agar definisi sukses mengikat divisi kami. Cerita yang tak berujung. Bahkan, dunia mimpi yang tidak dikenali lagi siapa penggagasnya. Kemudian aku jatuh. Lucu. Seperti pura pura. Apa aku menyesal dalam berharap demikian? Hampir. Sapaan air mata menjadi teman tidur belahan utara dunia media. Temanku menangis menyerah. aku yang salah. aku akan menyusulnya, berdamai dengannya dibawah naungan mimpi. Maaf, hampir salah jalan. aku memang salah, karena berharap argumen sukses itu memihak pada kami. Allah kabulkan. aku yang meminta agar kekuatan tim gw diluar kendali pasukan badr, Allah juga kabulkan. Selamat tidur, aku akan mengunjungimu sebelum fajar pagi. Semoga dimaafkan karena telah meminta hal demikian.

Ambang amarah dan kecewa!

  Ambang amarah dan kecewa! bingung. Tentang menghadapi sebuah situasi. Antara egois dan amarah, juga diantara sedih dan kecewa. Dengan kesamaan tak seiras terkait bagaimana mereka ditakdirkan beriringan. Satu sisi membenarkan, tanpa landas mengalah disisi yang lain. Atau kadang sebaliknya. Bahkan keduanya secara bersamaan.   Cara pulang. Belum tahu. Dan belum mencari tahu. Takut salah ambil jalan.   Lingkup selimut. Sepihak yang dipaksa mengalah. Apalah arti berdiam di posisi yang belum pernah tepat. Sepihak yang menghargai. Juga definisi mengapa aku harus tinggal sebagai orang yang lemah dilihatnya. Sepihak yang kecewa. Tentang memahami setiap POV rasa yang ternyata tidak ditakdirkan untuk kita. Sepihak yang, ah sudahlah. Hidup ini selalu tentang sepihak yang belum ditemukan bagaimana caranya pulang.

one-sided story!

  one-sided story! Yang biasanya diam, ada saatnya ia memilih untuk menjadi Lelah. Bukan karena cemburu, tapi karena hatinya sudah cukup percaya bahwa perasaan yang ia punya perlahan harus dimaklumi kehadirannya. aku sebagai seorang yang terlihat diam. Yang Ketika bercerita selalu diminta untuk ikhlas. Yang Ketika berharap sudah menjadi kebiasaan pendengar untuk menyadarkan ketidakmungkinan. Pada malam ini, pukul 00.00 Menulis secara murni perasaannya. Tanpa ditutupi sedikitpun. Mengakui kenakalannya karena telah menyimpan galeri baik. Mengakui kesalahannya karena mencintai sediam itu. Mengakui keteledorannya dalam berharap. Percayalah, semua yang aku lakukan bukan semata berharap keterbalikan takdir atau menciptakan sakit sama sekali. aku hanya menikmati momen sepihak ini, sebelum akhirnya lupa dengan terpaksa. Sebagai aku yang sadar, bagaimanapun juga posisiku tidak akan pernah jadi tokoh utama. Juga sebagai aku yang sadar, bahwa pertemanan selalu lebih pent...

E-go!

E-go! Sepatah satu dua kata, mengalir asyik dalam pengutaraan. Biasanya, tidak bagi pendengarnya. karakteristik mereka yang realistis, dihadapkan dengan mereka yang sangat ahli dalam menyaring segala rasa. entah peristiwa apa, yg telah menjadi alasan setiap asa setelahnya harus direlakan. Yang Lelah merasa sendirian, yang berharap merasa dikecewakan, dan yang bercahaya memilih mematikannya. Dengan landas yang tidak pantas, dgn alasan yg mengganggu. Allah, semakin aku mengenali diriku yang tidak mampu. Semakin aku meyakini diriku yang lemah. Bukan siapa siapa. ketika pada akhirnya, “harus apa?” menjadi setiap pembuka dari setiap keberanian yang menyapa. Mungkin mereka lebih memilih mundur sebelum kecewa. Itu cerita penutup hari ini, tapi tidak untuk esok hari. Karena tidak ada penutup yang lebih indah dari pembukanya. Sang penulis pasti sadar, manusia memang harus dipancing dengan rasa penasaran untuk membaca setiap latar yang ditulis.