Tentang hak menduduki sebuah kepastian, juga tentang
menghargai ramahnya kewajiban.
Kebanyakannya dari mereka tidak penasaran, mengapa
mengenali individual org terdekat justru terasa lebih sulit.
Mengira hati yang terpaut, dan menganggap bahwa itu
adalah hal yang paling biasa dan akan
terjadi tanpa usaha sekalipun. Siapa yg mau mengaku salah jika posisi nya
demikian?
Mayoritas hanya kurang paham, betapa dukungan justru
bisa menjadi tekanan bagi Sebagian pihak.
Dan maksud pendengar juga terkadang menjadi virus bagi sebuah kepercayaan. Ia bukan peduli, hanya ingin tahu. Lalu, siapa yanag
berani bertanggung jawab?
Ironisnya begini, jangan jatuh jika tidak dipercaya. Jangan
jatuh jika terbiasa dianggap sebelah mata.
Yang mengenal siapa dirimu, yang mengetahui seberapa
jauh perjalananmu.
Tidak ada satupun, bahkan benda mati didekatmu lebih mengenal
itu.
Untuk siapapun disebrang sana,
Kamu tidak salah, kamu hanya terlalu terluka untuk
terus dipaksa.
Jika mau, berani mengakui.
Jika malu, beranilah bergerak sendiri.
Hidupmu akan selamanya untukmu, sekuat apapun orang
lain berusaha mengambil alih itu.

Comments
Post a Comment