Percaya, duka atau Kembali suka?
Tepat. Ketika kepala tertunduk pasrah pada keadaan.
Ketika tanganku hanya mampu mengenggam sedikitnya harapan. Ketika merasa dunia
ini hanya milikku seorang. Berat. Tidak mampu.
Membuatku terus tersadar, bahwa kita memang tdk sanggup melakukan semuanya sendirian. Kita lemah. Bukan siapa siapa. Bukan apa apa
Kembali, aku ingin Kembali di masa dimana aku tidak mengenal lelaki lain. Dan tidak menghadiri alur manapun yang mempertemukanku dengannya dulu.
Kecewa? Pasti. Tetapi aku menyesal karena pernah kecewa.
seorang papa, manusia luar biasa yang belum pernah kutemukan
sebelumnya. Satu satunya. Pertama dan terakhir mengisi kehidupanku.
Ketika mata kepalaku menyingkap segala kebenaran. Dan mempertanyakan 'kenapa aku terlambat?'
Seandainya aku tau papa bahkan menyembunyikan usahanya untuk segala rasa inginku terpenuhi.
Juga kekarnya genggaman seorang ayah yang seringkali
terlupa, betapa genggaman itu merindukan tangan mungil nan mulus yang dulu
biasa dieratnya.
Katanya, tangan itu bukan lagi miliknya. Ada
yang menggantikan posisinya walau sebenarnya belum ingin.

Comments
Post a Comment