Skip to main content

Posts

perkenalkan kak, namaku putih.

Berada di tengah kerumunan, berdiam diantara lalu lalangnya arus recap. menghampiri salah satu akun, dan bertanya "permisii, ke arah yang benar lewat mana ya?" dia tidak menjawab. mungkin aku terlihat kurang update di matanya. berdiam untuk waktu yang cukup lama, kemudian aku memilih untuk, duduk. adakah salahnya menikmati tahun ini dengan kembali bersyukur tentang seperti apaa pembuka dan penutupnnya terbentuk? adakah perbedaan jika aku tidak berjalan kesana kemari seperti yang org lain lakukan? tahun ini warna warrni seperti biasanya, ada yang kelabu bahkan mendekati hitam, ada yang terlalu cerah tapi bukan putih citranya. terlalu banyak yang warna biru terlihatnya, tetapi untuk penutup yang secantik pelangi membuatku lupa. kembali menghampiri salah satu akun dan bertanya,  "tolong beritahu akuu, siapa yang masihh perlu mengenal warna di kasus ini?'
Recent posts

pukulanmu tidak sakit!

  pukulanmu tidak sakit! Lingkaran ini, terkadang seperti segitiga bentuk mejanya. Alangkah setiap ujungnya yang runcing ditutupi, Masihlah ada sayat dari ujungnya yang tersembunyi. Kaki yang saling menginjak, biasanya dilakukan tanpa sengaja. Tapi sakit yang diselimuti senyuman dibalik kursi, yang selalunya diusaha.   Pemimpin pusat bersuara, “akan kulindungi siapapun di meja ini” Hingga tipunya sendiri yang memukul bahwa kebohongan tidak harus diungkap secepat ini. Tidak ada kalimat yang terucap murni, kecuali “maaf, kali ini aku salah lagi”   Telak dipukulnya? Tidak. Pukulanmu tidak sakit tuan. Ekspetasiku lebih sakit dari apapun yang pecah diatas meja itu.  

Malam Perunggu

  Malam Perunggu Tangga setangga, berbalok biasa bentuknya. Kita bungkam siapapun yang mengatakan bahwa sepenuhnya usaha, karena suara yang didengar ternyata mengatakan bahwa itu semua hanya takdir diucapnya. Persetan pula perjalanan mengenali, dikala kemenangan selalunya jatuh di orang yang sama. Orang dalam, orang pilihannya. Ini bukan tentang kasta dan juara, cerita ini tentang panjangnya malam, serta merta seluruh hening dan jawabannya. Bahwa malam itu adalah malam perunggu. Medali yang dicipta untuk dirinya sendiri.

Cerita lain hari ini.

  Cerita lain hari ini. Perkenalkan, perempuan yang bersuara di ruang ini adalah seorang yang masih belum mengenal dirinya sendiri. Perempuan yang seringnya menangis tanpa menjawab “tidak apa apa” karena bahkan tidak menyadari sejak kapan ia terduduk seperti ini. Sejauh apapun ia bersembunyi, setinggi apapun Ia mencoba bermimpi. Dirinya masih hidup di masa lalu, kecewa nya masih bersama dengan tangis haru dirinya yang kecil dahulu. Tolong, Ajari aku caranya Ikhlas, paman. Permudah disuarakan dengan prosa, terlalu cantik dinikmati bagai puisi. Paragraf hari ini, izinkanlah dalam bentuk murni tanpa dinding pembatas Bernama kamuflase. Lapangan tulis hari ini, terimalah dalam bentuk dirinya sendiri.     Pegang kuat kuat traumamu, sayang. Cermin, kata, pejam, dan air mata. Agaknya menjadi pengantar tidur sehari hari. Laiknya sebuah kisah yang dibacakan para ayah dan ibu sebelum ditinggal sendiri dalam mimpi para balita, fase dewasa ini juga ma...

Kemana perginya para penari?

Kemana perginya para penari? Ada langkah yang berhenti, ada juga Gerakan yang tak sampai pesannya. Gurunda berteriak kecewa malam hari, karena dikata bahwa mereka memilih mundur keputusannya. Perempuan pemalu yang dihadapannya itu, bukanlah diam karena membenarkan. Melainkan karena lirik mata sang guru cukup dibuatnya menjadi sungkan.   “bagaimana jika hari ini gagal?’ tanya mereka. Tak selesa pula ku tuliskan jawabannya disini, Tertusuk ketumpulan bukankah lebih sakit jika dirasa?   Perkenalkan, aku adalah anak yang cukup berani bersuara. Karena sedari kecil, tenggorokanku selalunya dilarang meneriaki kejujuran setiap rasa. Berlari ku kearah sang guru, menunduk memberi hormat, kemudian melirih dengan ampun: “kau mencari kemanapun keberadaan para penari, sebenarnya kami tidak akan pergi kemanapun. Tetapi ketika yang kau cari adalah harga tariannya, percaya bahwa itu tidak akan pernah ditemukan sampai kapanpun.”   Ko akan cari sa dimana? Kami ...

Key

Key Satu dua pintu, dengan kuncinya yang hijau berlumut atau tajam karena patah. Satu dua ruang, dengan kelabunya sesarangan, juga lubang menyeramkan seperti ada mata yang menyorot kearahku. Hari itu, aku mencoba memeriksa, barangkali ada lagi pintu lain yang masih bagus dan kokoh. Tak mesti indah, sekurangnya masih mampu untuk kubuka paksa. Berjalan jalan. Gelap. Dan tidak menemukan apapun. 2 jam, 3 jam, tetap tidak berhasil. ‘lelah ya’ batinku, sambil perlahan bersandar di dinding yang penuh dengan coretan abstrack.  ... “rumah ini hancur sekali, apa kau tidak bertanya apa yang telah dilakukan oleh penghuninya?” tiba tiba seseorang mendekat kearahku, dengan pakaian seadanya, dengan raut wajah yang tak asing lagi dilihat mata. angkuh. “siapa kau? apa kau tinggal disini?” “tidak, tapi aku bisa dikatakan terjebak” “berarti kita sama sama terjebak?” “tidak, aku sudah mengetahui jalan keluarnya.. hanya saja aku masih harus tinggal disini, memastikan beberapa ta...

Tanggung Jawab

Tanggung Jawab Manusia memang tidak pernah tertulis kesempurnaannya. Minimalnya, satu dua orang pernah melihat dengan matanya sendiri betapa sulitnya untuk seseorang mengumpulkan serpihan dirinya yang lain. Ada yang memeluk, ada yang mengelus, ada yang duduk disamping, dan ada juga yang mengetuk setiap pintu tangis. Terkadang tangannya membantu kita untuk bangkit lagi, terkadang kita hanya ditemani untuk bisa berdiri sendiri, dan tidak terlewat mereka yang juga hanya mengatakan “masih sanggup kan?” lalu kemudian pergi. Hari ini kita terjebak, esok dibebaskan lagi. Lusa kita tenggelam, besoknya sampai di penghujung pantai lagi. Kalau bukan begitu caranya, bagaimana kita bisa paham? Bahwa kebesaran seseorang bukan karena ia ahli dalam menghindar, tetapi berpengalaman hebat dalam menghadapi. Itu kan yang dinamakan pelatih handal?  ...   Hmm, Seperti ini tulisan yang kau tunggu?  Atau dengar ku sukses yang kau mau? Maka untuk siapapun itu, Terima kasi...