Berada di tengah kerumunan, berdiam diantara lalu lalangnya arus recap. menghampiri salah satu akun, dan bertanya "permisii, ke arah yang benar lewat mana ya?" dia tidak menjawab. mungkin aku terlihat kurang update di matanya. berdiam untuk waktu yang cukup lama, kemudian aku memilih untuk, duduk. adakah salahnya menikmati tahun ini dengan kembali bersyukur tentang seperti apaa pembuka dan penutupnnya terbentuk? adakah perbedaan jika aku tidak berjalan kesana kemari seperti yang org lain lakukan? tahun ini warna warrni seperti biasanya, ada yang kelabu bahkan mendekati hitam, ada yang terlalu cerah tapi bukan putih citranya. terlalu banyak yang warna biru terlihatnya, tetapi untuk penutup yang secantik pelangi membuatku lupa. kembali menghampiri salah satu akun dan bertanya, "tolong beritahu akuu, siapa yang masihh perlu mengenal warna di kasus ini?'
pukulanmu tidak sakit! Lingkaran ini, terkadang seperti segitiga bentuk mejanya. Alangkah setiap ujungnya yang runcing ditutupi, Masihlah ada sayat dari ujungnya yang tersembunyi. Kaki yang saling menginjak, biasanya dilakukan tanpa sengaja. Tapi sakit yang diselimuti senyuman dibalik kursi, yang selalunya diusaha. Pemimpin pusat bersuara, “akan kulindungi siapapun di meja ini” Hingga tipunya sendiri yang memukul bahwa kebohongan tidak harus diungkap secepat ini. Tidak ada kalimat yang terucap murni, kecuali “maaf, kali ini aku salah lagi” Telak dipukulnya? Tidak. Pukulanmu tidak sakit tuan. Ekspetasiku lebih sakit dari apapun yang pecah diatas meja itu.