Cerita lain hari ini.
Perkenalkan,
perempuan yang bersuara di ruang ini adalah seorang yang masih belum mengenal
dirinya sendiri.
Perempuan
yang seringnya menangis tanpa menjawab “tidak apa apa” karena bahkan tidak
menyadari sejak kapan ia terduduk seperti ini.
Sejauh
apapun ia bersembunyi, setinggi apapun Ia mencoba bermimpi.
Dirinya
masih hidup di masa lalu, kecewa nya masih bersama dengan tangis haru dirinya
yang kecil dahulu.
Tolong,
Ajari aku caranya Ikhlas, paman.
Permudah disuarakan dengan prosa, terlalu cantik dinikmati bagai puisi.
Paragraf hari ini, izinkanlah dalam bentuk murni tanpa dinding pembatas Bernama kamuflase.
Lapangan
tulis hari ini, terimalah dalam bentuk dirinya sendiri.
Pegang kuat kuat traumamu, sayang.
Cermin,
kata, pejam, dan air mata. Agaknya menjadi pengantar tidur sehari hari.
Laiknya
sebuah kisah yang dibacakan para ayah dan ibu sebelum ditinggal sendiri dalam
mimpi para balita, fase dewasa ini juga masih dibersamai dengan stori indah bertajuk
cemas tiada hentinya.
perempuan
ini dalam masanya hidup sendiri, percayakan teman teman yang selalu ada bersamanya,
cenderung membuatnya merasa bahwa seluruh manusia justru sedang sama sama
menyendiri.
Menangislah,
cantik…
Biarkan
dirimu berbicara tentang apa yang dirasanya, tentang apa yang harus dilakukannya,
juga pelukan seperti apa yang sebenarnya ia butuhkan.
Diujung
waktu, ketika air mata terakhirmu jatuh, kau akan paham.
Bahwa
untuk meikhlaskan bukan lah dengan melupakannya, tetapi dengan memegangnya kuat
kuat dan proses melepaskan perlahan.
Sehingga
suatu saat kau mengingat latarnya, bukan lagi perasaan yang sama yang kau
temukan, tetapi senyum setelahnya yang akan kau ulangi kemudian.

Comments
Post a Comment