Kemana perginya para penari?
Ada
langkah yang berhenti, ada juga Gerakan yang tak sampai pesannya.
Gurunda
berteriak kecewa malam hari, karena dikata bahwa mereka memilih mundur
keputusannya.
Perempuan
pemalu yang dihadapannya itu, bukanlah diam karena membenarkan.
Melainkan
karena lirik mata sang guru cukup dibuatnya menjadi sungkan.
“bagaimana
jika hari ini gagal?’ tanya mereka.
Tak
selesa pula ku tuliskan jawabannya disini, Tertusuk ketumpulan bukankah lebih
sakit jika dirasa?
Perkenalkan,
aku adalah anak yang cukup berani bersuara.
Karena
sedari kecil, tenggorokanku selalunya dilarang meneriaki kejujuran setiap rasa.
Berlari
ku kearah sang guru, menunduk memberi hormat, kemudian melirih dengan ampun:
“kau
mencari kemanapun keberadaan para penari, sebenarnya kami tidak akan pergi kemanapun. Tetapi ketika yang kau cari adalah harga tariannya, percaya bahwa itu
tidak akan pernah ditemukan sampai kapanpun.”
Ko akan cari sa dimana? Kami disini dengan tarian yang tak jelas alurnya.
Kalau
tak percaya, sampaikan kepadaku apa artinya ruang kata hari ini,
karena
memang sekacau itu kepalaku dalam mempercayai siapapun yang berusaha menemani.

Comments
Post a Comment