Key
Satu dua pintu, dengan kuncinya
yang hijau berlumut atau tajam karena patah.
Satu dua ruang, dengan kelabunya
sesarangan, juga lubang menyeramkan seperti ada mata yang menyorot kearahku.
Hari itu, aku mencoba memeriksa,
barangkali ada lagi pintu lain yang masih bagus dan kokoh. Tak mesti
indah, sekurangnya masih mampu untuk kubuka paksa.
Berjalan jalan. Gelap. Dan tidak
menemukan apapun.
2 jam, 3 jam, tetap tidak berhasil.
‘lelah ya’ batinku, sambil perlahan bersandar di dinding yang penuh dengan coretan abstrack.
“rumah ini hancur sekali, apa kau
tidak bertanya apa yang telah dilakukan oleh penghuninya?” tiba tiba seseorang
mendekat kearahku, dengan pakaian seadanya, dengan raut wajah yang tak asing
lagi dilihat mata. angkuh.
“siapa kau? apa kau tinggal disini?”
“tidak, tapi aku bisa dikatakan terjebak”
“berarti kita sama sama terjebak?”
“tidak, aku sudah mengetahui jalan
keluarnya.. hanya saja aku masih harus tinggal disini, memastikan beberapa tahun
kedepan tidak ada lagi yang tersesat disini sepertimu” jelasnya, dengan nada sedikit merendah.
Time
Teringat, dulu jarum jam yang
berputar itu pernah berjanji kepadaku.
Untuk keluar dari sini, kita hanya perlu sedikit bermain
main sembari menikmati suram, berjalan perlahan sampai pintu itu bisa terlihat
dengan sendirinya.
Benar, tidak butuh waktu lama, tetapi cukup membuatku mengenal baik setiap sudut ruangnya, juga siapa yang menemaniku selama di dalam tadi.
Tentang pintu keluar yang kujumpai, terdapat tulisan tangan yang
cantik berupa ‘rasa takut dan waktunya’.
Door
Hangat sekali diluar sini, dedaunannya
rimbun, kicau burungnya yg merdu kini tidak lagi memekakan kepalaku.
Sedikit menengok kebelakang untuk
melambai, mataku dibuat terkejut melihat tulisan di pintu itu berubah menjadi ‘harga
diri dan keputusannya’
Langkahku berhenti, kemudian
bertanya “mengapa kamu tidak ikut keluar? Dan apa artinya tulisan di pintu
itu?”
Seseorang ini tersenyum dengan
tipis, “aku yang terjebak didalamnya saat ini, aku yang belum mau keluar dari
ruangnya, karena itu tulisannya akan berubah sesuai alasanku menginjak lantai
ini”
“apa kamu yakin belum mau?”
“belum, aku masih bosan. Dan keluar
bersamamu, tidak berarti aku terlepas dari rasa bosanku. Mungkin akan ada orang
yang terjebak disini lagi setelah ini, akan kutengok apa dia orang yang tepat
untuk aku ajak bermain”
Entah apa yang harus kupahami dari
jawabannya itu, tapi ku memilih untuk tetap melanjutkan perjalananku dengan
berani, sekalipun pintu ruang gelap yang lain sudah terlihat dari kejauhan.
Perjalanan singkat ini ku namakan
dengan “sembuh”
Memperkenalkanmu terhadap 3 unsur penting yaitu; menemukan kunci, menghargai waktu, dan melepas ruang riuh itu.
Entah akan ada seseorang yang datang, atau pergi meninggalkan kita di setiap pintunya.
.jpg)
Comments
Post a Comment